Program MBG dan SPPG Jadi Penopang Hidup Relawan Yang Rawat Anak Disabilitas

Bengkulu – Di dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Padang Serai, Bengkulu, Putri Verona menjalani hari-harinya sebagai relawan bagian pengolahan. Di balik aktivitasnya menyiapkan makanan untuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG), tersimpan kisah perjuangan seorang ibu dengan beban hidup yang tidak ringan.

Putri merupakan ibu dari tiga anak, di mana anak pertamanya merupakan penyandang disabilitas berusia hampir 11 tahun. Ia juga pernah kehilangan anak keduanya yang meninggal saat berusia tiga bulan, sementara anak bungsunya kini masih balita.

Bacaan Lainnya

“Saya mempunyai anak yang disabilitas, umur hampir 11 tahun. Dan mempunyai anak yang kedua sudah meninggal, umur 3 bulan 7 hari. Yang ketiga umur 2,5 tahun. Ya adanya MBG ini bisa terbantulah sekarang. Bisa membantu suami,” ungkap Putri dengan perasaan sedih saat menceritakan kondisinya kala ditemui di Bengkulu, Kamis (16/4).

Sebelum bergabung dengan SPPG, kondisi ekonomi keluarga Putri tergolong sulit. Suaminya bekerja sebagai sopir lintas yang penghasilannya tidak menentu, sementara mereka masih harus tinggal di rumah kontrakan. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Putri kerap bergantung pada bantuan orang tua dan bahkan sempat memiliki pinjaman.

Merawat anak dengan kondisi disabilitas juga bukan hal mudah. Sejak lahir, anaknya sering keluar masuk rumah sakit karena kejang dan harus menjalani terapi rutin. Kondisi tersebut membuat Putri lebih banyak menghabiskan waktu di rumah untuk merawat anaknya.

Namun sejak adanya SPPG, ia melihat peluang untuk membantu perekonomian keluarga. Tanpa ragu, ia langsung mendaftar saat mendapat informasi dari teman-temannya. “Langsung daftar, alhamdulillah diterima. Sangat membantu untuk kebutuhan keluarga,” ucapnya terharu.

Kini, penghasilan dari SPPG menjadi tambahan penting bagi keluarga mereka. Uang yang didapat sebesar Rp105.000 per harinya, ia gunakan untuk kebutuhan sehari-hari, termasuk memenuhi kebutuhan khusus anaknya seperti susu yang harus dikonsumsi secara rutin.

Meski bekerja, Putri tetap bisa menjalankan perannya sebagai ibu. Anak-anaknya dititipkan kepada neneknya saat ia bekerja, terutama karena jam kerja yang tidak mengganggu waktu istirahat malam. Dukungan keluarga menjadi kunci agar ia tetap bisa bekerja dan merawat anaknya.

Tak hanya membantu dari sisi ekonomi, Program MBG juga dirasakan manfaatnya langsung oleh anaknya yang paling bungsu. Asupan makanan yang lebih terjamin membuat kondisi anaknya lebih stabil. “Alhamdulillah, terbantu untuk makannya. Pokoknya si kecil sih menerima. Cocok, alhamdulillah cocok,” kata dia.

Bagi Putri, keberadaan SPPG dan Program MBG bukan sekadar pekerjaan, melainkan harapan. Harapan untuk kehidupan yang lebih baik, untuk anak-anaknya, dan untuk masa depan keluarganya.

Putri sendiri bergabung menjadi relawan SPPG Padang Serai sejak 6 Oktober 2025 atau tepat mulai beroperasionalnya unit tersebut. “Kalau bisa jangan sampai hilang (atau dibubarkan Program MBG). Ini sudah sangat membantu kami,” harapnya.

 

Biro Hukum dan Humas

Badan Gizi Nasional

(Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *