Rutan Surakarta Perkuat Sinergi Pelestarian Budaya pada Dies Natalis ke-46 UTP Surakarta dan Tutupan Suro 1960 Saka

Surakarta – Rutan Kelas I Surakarta menghadiri peringatan Dies Natalis ke-46 Universitas Tunas Pembangunan (UTP) Surakarta yang dirangkaikan dengan Tutupan Suro 1960 Saka, Kamis (16/07). Kegiatan yang berlangsung khidmat tersebut menjadi momentum mempererat kolaborasi antara institusi pendidikan, pemerintah daerah, dan berbagai pemangku kepentingan dalam melestarikan budaya bangsa melalui pagelaran wayang kulit.

Rangkaian kegiatan diawali dengan laporan penyelenggaraan oleh Ketua Dewan Pengurus Yayasan Perguruan Tinggi Tunas Pembangunan (YPT TP) Surakarta, Ir. Leny Pramesti, yang kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari Wali Kota Surakarta, Respati Ardi. Sebagai penanda dimulainya pagelaran wayang kulit, Wali Kota Surakarta menyerahkan wayang kulit secara simbolis kepada dalang Ki Amar Pradopo, yang kemudian membawakan lakon β€œPandawa Syukur” sebagai sajian utama dalam peringatan Dies Natalis dan Tutupan Suro tahun ini.

Bacaan Lainnya

Keikutsertaan Rutan Surakarta dalam kegiatan tersebut merupakan wujud dukungan terhadap upaya pelestarian seni dan budaya sebagai bagian dari pembinaan karakter masyarakat. Wayang kulit tidak hanya menjadi warisan budaya yang adiluhung, tetapi juga sarana edukasi yang sarat nilai-nilai moral, kepemimpinan, kebijaksanaan, serta semangat gotong royong yang relevan untuk ditanamkan kepada seluruh lapisan masyarakat, termasuk warga binaan pemasyarakatan.

Kepala Rutan Kelas I Surakarta, Bhanad Shofa Kurniawan menyampaikan bahwa kehadiran Rutan Surakarta dalam kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen memperkuat sinergi dengan dunia pendidikan dan berbagai pemangku kepentingan dalam menjaga kelestarian budaya bangsa. β€œWayang kulit merupakan media yang kaya akan nilai-nilai kehidupan dan karakter luhur. Melalui sinergi dengan institusi pendidikan seperti Universitas Tunas Pembangunan Surakarta, kami berharap semangat pelestarian budaya dapat terus tumbuh sekaligus menjadi inspirasi dalam pelaksanaan pembinaan warga binaan agar memiliki karakter yang lebih baik, cinta budaya, serta siap kembali menjadi pribadi yang bermanfaat bagi masyarakat,” ujar Karutan Surakarta.

(Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *