TANGERANG β Momentum Hari Kartini 21 April 2026 dimanfaatkan sebagai ajang refleksi sekaligus inspirasi dalam gelaran Business & Life Inspiration Talk yang berlangsung di Restoran Angke, Serpong.
Acara ini menghadirkan dua pembicara, pengusaha dan motivator Inge Fang, S.E., MBA serta praktisi bisnis Harry Basuki Tjahaja Purnama, AHMA Dipl. MBA, dengan pembahasan seputar mindset, kemandirian, dan strategi menghadapi era global.
Dalam pemaparannya, Inge Fang menegaskan pentingnya perempuan untuk terus belajar dan tidak berhenti berkembang. Ia menilai, kunci utama agar perempuan tidak tertinggal adalah memiliki mindset maju, keterampilan, serta kemandirian finansial.
βPerempuan harus punya skill dan mandiri. Kalau tidak, akan sulit menghadapi berbagai kondisi kehidupan, terutama yang berkaitan dengan ekonomi,β ujarnya.
Lebih lanjut, Inge Fang mengaitkan pesan tersebut dengan semangat Kartini, di mana perempuan didorong untuk berani bermimpi besar dan mengambil peluang. Ia juga menyoroti peran media sosial sebagai pintu besar untuk berkembang di era digital.
Salah satu contoh nyata yang ia angkat adalah sosok Icha Yang, penyanyi muda yang dinilainya memiliki karakter kuat dan potensi besar untuk menembus pasar internasional. Menurut Inge, keberhasilan Icha tidak lepas dari mindset yang terbuka, kemauan belajar, dan keberanian keluar dari zona nyaman.
βInilah gambaran perempuan Indonesia masa kini. Dari daerah, punya mimpi besar, lalu berani datang ke Jakarta dan belajar hal baru, bahkan sampai menguasai lagu Mandarin dalam waktu singkat dan sekarang Icha kerap di undang ke China, disambut dengan red carpet untuk tampil di acara besar disana, ini tentu sangat membanggakan,” jelasnya.
Ia mengaku terinspirasi dengan perkembangan Icha Yang yang mampu tampil di ruang publik hingga menarik perhatian luas melalui media sosial. Bagi Inge, hal ini menjadi bukti bahwa talenta lokal Indonesia tidak kalah dan justru harus lebih didorong untuk go internasional.
βKita harus bangga dan mempromosikan talenta lokal. Jangan selalu melihat ke luar negeri, karena kita punya potensi besar di dalam negeri,β tambahnya.
Sementara itu, Harry Basuki Tjahaja Purnama dalam paparannya menekankan pentingnya adaptasi pelaku usaha terhadap perkembangan zaman. Ia menyebut, di era globalisasi saat ini, pelaku usaha terutama di sektor kuliner dan retail tidak bisa lepas dari teknologi, media sosial, dan strategi digital.
Menurutnya, banyak usaha yang stagnan karena tidak mengikuti tren, sehingga perlu adanya pembaruan cara berpikir dan strategi bisnis agar tetap relevan di pasar.
Selain itu, Harry juga menyoroti sektor pariwisata sebagai kekuatan utama ekonomi Indonesia. Ia menjelaskan bahwa pariwisata memiliki efek berantai yang luas, mulai dari peningkatan ekonomi masyarakat hingga pertumbuhan infrastruktur daerah.
βPariwisata itu sektor yang membawa uang masuk tanpa menguras sumber daya. Wisatawan datang, belanja di sini, dan pulang membawa pengalaman. Ini yang harus dimaksimalkan,β ungkapnya.
Ia pun menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah pusat dan daerah, serta perencanaan yang matang dalam membangun destinasi wisata agar mampu bersaing secara global.
Di sisi lain, Harry juga menyampaikan pesan motivasi tentang pentingnya menjaga mentalitas positif, terutama dalam menjalani kehidupan dan usaha. Ia mengajak masyarakat untuk lebih fokus pada diri sendiri, tidak terpengaruh oleh komentar negatif, serta tetap aktif dan produktif di usia berapa pun.
βPercaya diri, percaya pada apa yang kita yakini, dan mulai bertindak. Itu kunci untuk tetap berkembang dan menikmati hidup,β tutupnya.
Acara ini menjadi ruang inspiratif yang tidak hanya membahas kesuksesan dari sisi bisnis, tetapi juga menekankan pentingnya mindset, keberanian, dan konsistensi dalam menghadapi tantangan zaman selaras dengan semangat Kartini yang terus relevan hingga hari ini.
(Red)









